Monday, October 18, 2010

Apakah Iblis sungguh ada?




yaan: Alkitab, dan bahkan bacaan sekuler, memuat banyak referensi tentang “Iblis,” ”Lucifer,” ”Setan,” dan ”roh-roh jahat,” namun saya pernah bertemu dengan beberapa orang Kristen yang tidak percaya bahwa ada hal seperti Iblis yang sungguh ada. Apakah yang diajarkan Alkitab tentang ini?
Sejauh yang saya tahu, orang yang percaya kepada Yesus Kristus tetapi tidak percaya akan keberadaan Iblis, tidak diragukan ada orang-orang yang memegang ide ini, tapi mungkin kelompok Christadelphians merupakan kelompok yang paling terkenal. Untuk memberi penjelasan bagi penderitaan dan kejahatan yang tidak terhitung jumlahnya yang menyebar ke seluruh dunia, mereka, yang menyangkal keberadaan suatu makhluk yang dikenal sebagai Iblis, biasanya berkata bahwa semua referensi alkitabiah yang menunjuk kepada Iblis dan roh-roh jahatnya, hanyalah sebuah kiasan. Pernyataan dasar mereka adalah bahwa semua kejahatan berasal dari pikiran dan hati manusia, dan bahwa “Setan” dsb, adalah karangan manusia.
Pertama-tama, Alkitab tidak berasal dari pikiran manusia (2 Pet. 1:20 dan 21), jadi ”Setan” bukanlah ide Marilyn Manson. Kedua, tidak ada pembenaran baik secara tata bahasa maupun naskah untuk mengangkat penafsiran non-harfiah terhadap banyak referensi Perjanjian Baru yang jelas tentang Iblis dan roh-roh jahatnya.
Ketiga, siapa saja dengan kesadaran ekstra, sungguh mengetahui bahwa ada kejahatan yang tidak dapat digambarkan, tragedi dan penderitaan di seluruh dunia. Setiap hari dalam surat kabar apa pun dipenuhi dengan kisah tragis tentang perang, kelaparan, badai, tornado, gempa bumi, bom bunuh diri, pembunuhan massal, kecelakaan fatal dalam rumah, pelecehan anak-anak, pornografi, jenis penyakit yang tidak terhitung, pembunuhan, kematian, pemusnahan, kebencian, prasangka, tiada habisnya hingga tidak terbatas. Dan semua itu tidak berkenaan dengan hal yang indah!
OK, saya menganggap sepi beberapa kelalaian George W. Bush seperti seorang non-teologia yang berjalan di atas tali, tetapi hal itu merupakan sesuatu yang ironis dan tidak dapat dibayangkan bahwa di dalam peristiwa yang menyentakkan yaitu serangan 9/11 atas World Trade Center, di mana bersama dia dan begitu banyak tokoh masyarakat yang lain (termasuk para ahli teologia) berbicara mengenai “baik” (good) dan “jahat” (evil), tetapi saya tidak mendengar satu pun yang menyinggung tentang tata bahasa yaitu jika Anda menyingkirkan satu huruf “o” dari “good” (baik) dan menambahkan “D” pada “evil” (jahat), maka Anda mendapatkan jawaban mengapa peristiwa mengerikan itu terjadi! Apa yang kita lihat di sekitar kita adalah manifestasi peperangan yang bergelora antara G-o-d (Tuhan) dan D-e-v-i-l (Iblis).
Apakah inti pertarungan mereka? Tujuan akhir yang kekal dari umat manusia. Masing-masing menginginkan kesetiaan dari sebanyak mungkin manusia. Perbedaannya adalah Tuhan menginginkan manusia mengasihi Dia tanpa paksaan agar Dia dapat memberikan hal yang baik bagi mereka, sedangkan Iblis ingin mengendalikan manusia agar dia dapat memberikan yang jahat kepada mereka.
Seluruh pokok dari “demonologi” (ilmu tentang roh jahat) harus dilihat dalam konteks pengertian yang lebih luas di mana Iblis adalah musuh utama Tuhan, dan Tuhan bertindak bijaksana dalam apa yang dikatakan-Nya kepada kita tentang dia (Iblis). Akan tetapi, sebuah penyelidikan sederhana dari Perjanjian Baru, terutama mengenai hidup dan pelayanan Yesus, dengan jelas menunjukkan bahwa ada suatu makhluk (malaikat yang jatuh, makhluk roh) yang dikenal sebagai Iblis atau Setan, bersama dengan semua roh-roh jahatnya, melakukan segala hal yang dapat diperbuatnya untuk menggagalkan rencana Tuhan. Di dalam pokok-pokok alkitabiah, Tuhan mengatakan kepada kita tentang semua yang perlu kita ketahui tentang dia yang juga merupakan musuh utama kita, yaitu mengenai metode-metodenya, dan bagaimana kita dapat menang melawan dia.
Bagaimana dengan Perjanjian Lama? Mengapa pada dasarnya di sana tidak disinggung mengenai Iblis? Itu adalah pertanyaan yang sangat bagus, dan kami mencoba sekuat tenaga untuk menjawabnya dalam buku kami Don’t Blame God! Sedikit referensi mengenai Setan dalam Perjanjian Lama, misalnya dalam Kejadian 3, Ayub 1 & 2, Yesaya 14, dan Yehezkiel 28 tidak dimengerti oleh orang-orang pada masa itu yang menunjuk kepada pribadi seperti yang disingkapkan Yesus dalam Perjanjian Baru. Menoleh ke belakang dalam terang Perjanjian Baru, kita mengerti hal ini sebagai referensi yang menunjuk kepada Setan, tetapi referensi itu cukup samar seolah-olah menyelubungi keberadaannya dari orang-orang dalam Perjanjian Lama. Mereka menyadari keberadaan alam roh, tetapi tidak terlintas dalam pikiran mereka tentang dua kerajaan yang saling berperang.
Alasan dasar mengapa Tuhan tidak menyingkapkan tentang Iblis kepada orang-orang pada masa Perjanjian Lama adalah bahwa sebelum Hari Pentakosta (Kis. 2:1 dst), di mana, tentu saja, tidak ada orang Kristen, dan oleh karena itu hanya beberapa orang yang terpilih yang memiliki karunia Roh Kudus (yang memberikan seseorang kuasa rohani – Luk. 10:19; Yoh. 7:39; Kis. 1:8, dsb), sesuatu yang sekarang dimiliki oleh setiap orang Kristen dan semua orang Kristen. Orang-orang pada masa Perjanjian Lama tidak dipersiapkan secara rohani untuk bertarung melawan Musuh seperti kita sekarang. Jika mereka diberitahu tentang musuh yang sangat besar itu, yang bertekad untuk menghancurkan mereka, dan bahwa dia adalah makhluk roh yang tidak kelihatan yang memiliki kuasa luar biasa, dan dimana sebagian besar dari orang-orang tidak memiliki senjata rohani dan tidak mempunyai akses dalam alam roh, maka hal itu sungguh-sungguh akan menghancurkan hidup mereka.
Jadi Tuhan “mau dipersalahkan” untuk kejahatan dengan berkata bahwa jika umat-Nya taat, Dia akan memberkati mereka, dan jika mereka tidak taat, Dia akan menghukum mereka. Ini adalah bahasa kiasan yang dijelaskan dalam Don’t Blame God! Penting sekali orang Kristen memahami Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru. Tuhan adalah kasih, dan Dia tidak dapat menyakiti umat-Nya.
Demikian pula Dia tidak dapat menyangkali Diri-Nya Sendiri. Misalnya, Tuhan mengutus Musa untuk berkata kepada raja Mesir Firaun agar membiarkan umat-Nya pergi. Lalu mengapa Alkitab berkata bahwa ”Tuhan mengeraskan hati Firaun” agar dia menolak melakukan itu? Apakah Tuhan tidak waras? Tidak. Itu adalah Iblis yang sungguh-sungguh mempengaruhi Firaun agar mengeraskan hatinya, tetapi Tuhan tidak dapat menampilkan Iblis kepada umat-Nya, jadi Dia memakai gaya bahasa, Metonimia Profetis (kiasan yang berupa pemakaian nama ciri atau nama yang ditautkan dengan orang), yang dijelaskan secara terperinci dalam Don’t Blame God! Mereka yang gagal menyadari hal ini didorong ke dalam posisi yang tidak enak untuk memberikan penjelasan bagaimana Tuhan yang penuh kasih dan kebenaran itu, bisa diperslahkan karena membuat seseorang melakukan dosa dan kemudian mempersalahkan dia untuk hal itu.
Tidak seperti Perjanjian Lama, Firman yang ditulis kepada orang-orang Kristen mempunyai bagian-bagian seperti Efesus 6:10-17, semacam cetak-biru untuk peperangan. Ini sebuah cuplikan: “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Tuhan, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”
Mengenai keberadaan sesungguhnya dari Iblis dan roh-roh jahatnya, bukan saja terdapat kesaksian alkitabiah yang jelas, tetapi juga bukti berdasarkan pengalaman. Kejahatan yang merajalela di dalam dunia adalah salah satu bukti yang nyata dan jelas, tetapi ada bukti lain, seperti yang disaksikan oleh orang yang terlibat dalam “pelayanan pelepasan”, siapa saja yang pernah dirasuki roh jahat bisa membagi pengalaman, dan mereka yang sungguh-sungguh terlibat dalam Satanisme akan meneguhkan. Banyak orang Kristen yang sebelumnya terlibat dengan ilmu sihir sudah melihat cukup banyak fenomena kejahatan supernatural dengan mata mereka sendiri yang membuat mereka lebih dari yakin akan keberadaan roh-roh jahat dan Iblis.
Untuk menutup penjabaran singkat ini, berikut ini beberapa pertanyaan dengan jawaban ringkas, masing-masing bisa didokumentasi oleh Alkitab.
Darimanakah asal Iblis?
Aslinya dia adalah “Lucifer”, malaikat terang, salah satu dari tiga malaikat tertinggi (bersama-sama dengan Gabriel dan Mikael).
Bagaimanakah Iblis ada di bumi?
Dia diusir dari surga (bersama dengan sepertiga malaikat-malaikat) setelah memimpin pemberontakan malaikat melawan Tuhan. Di dalam Taman Eden dia mendekati Hawa sebagai “Ular” (kita tahu bahwa itu adalah bahasa kiasan karena secara harfiah dia adalah malaikat yang jatuh ke dalam dosa pemberontakan, tetapi jalan-jalannya sangat mirip dengan seekor ular).
Apakah yang dilakukannya sekarang?
Dia selalu menentang Tuhan dalam segala hal. Dia adalah pembinasa dan bapa segala dusta, dan dia adalah pusat kejahatan yang kejam di dalam dunia hari ini. Setan tidak melakukan semua perbuatan jahat itu sendirian, tetapi dia yang menjadi dalangnya.
Apakah yang terjadi kepadanya selama 1000 tahun pemerintahan Kristus di bumi?
Wahyu 20 berkata dia “diikat”, yaitu, dia tidak bebas bergerak di bumi. Lalu akan ada damai, keamanan, dan kemakmuran di bumi (untuk lebih jelas mengenai ini, bacalah The Christian’s Hope – Pengharapan Orang Kristen).
Apakah yang terjadi kepadanya setelah Kristus memulihkan Firdaus bagi Tuhan?
Dia dilemparkan ke Lautan Api dan dibakar (Why. 20:10 – ungkapan “selama-lamanya” lebih akurat diterjemahkan “untuk segala masa.” Tampaknya akan memakan waktu yang lama untuk membinasakan Setan, tetapi dia akan dihancurkan seperti dikatakan Yehezkiel 28:18, yang berkata dia akan “dimakan habis … menjadi abu”).
Apakah “roh-roh jahat” dalam Alkitab adalah pengikut Iblis?
Ya, mereka adalah roh jahat yang berada di bawah perintahnya, dan disebut “malaikat-malaikatnya” dalam Matius 25:41 dan Wahyu 12:7-9. Nasib yang sama akan menimpa mereka seperti terhadap Setan.
1 Yohanes 3:8 berkata bahwa Iblis berbuat dosa dari mulanya dan itulah sebabnya Yesus datang untuk menghancurkan pekerjaan-pekerjaannya. Mati di kayu salib adalah syarat untuk menggenapi tujuan tersebut. Sekarang Yesus, sebagai Tuan, adalah “sudah menyelesaikannya”, jika boleh dikatakan demikian, dan mengakhirinya dengan memberikan pukulan maut kepada Setan. Anda dan saya akan melihat keadilan dilaksanakan. Sementara itu, melalui berjalan bersama Tuan Yesus, kita dapat menimbulkan kerusakan luar biasa terhadap kerajaannya dan membebaskan orang-orang dari kuasanya. Amin.

No comments:

Post a Comment